Janganglah diam seperti diamnya Keledai (Sebuah Instrospeksi)

Diam seringkali dianggap jalan yang paling bijak karena diam itu adalah emas. Nabi Muhammad SAW bahkan sudah mengingatkan umatnya agar tidak asal berbicara atau hanya berbicara untuk hal-hal yg bermanfaat saja. Beliau mengingatkan umatnya agar benar-benar dapat mengontrol “mulut” dan “lisannya”. Bahkan beliau menyatakan bahwa indikasi iman adalah berbicara yang baik. Atau kalau tidak baik, lebih baik diam.
Namun demikian apakah diam kita sudah sesuai dengan yg dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW? Bisa jadi kita memilih diam karena hal lain. Diam kita bisa jadi wujud dari sikap keputus-asaan, apatis dan masa bodoh. Diam kita bisa juga karena rasa takut (silence is the residue of fear). Takut terhadap keadaan yg mencekam, takut terhadap penguasa, takut terhadap atasan, takut kalau kita akan dimutasi kedaerah terpencil, takut terhadap non-job, takut tidak dapat paket/proyek, takut dikucilkan, dll. Kita takut mengutarakan suatu kebaikan atau suatu kebenaran hanya karena konsekuensi yg akan kita terima. Kita cari “selamat” masing-masing. Peduli amat dengan keadaan sekitar.
Oleh karena itu, banyak persoalan-persoalan sosial yang kita jumpai tetap berlanjut atau semakin parah hanya karena kita memilih diam dan bersikap “masa bodoh”. Kita seolah dipaksakan menerima keadaan. Dr. Martin Luther King, Jr. (tokoh demokrasi dan pejuang hak-hak asasi manusia) pernah mengatakan "In the end, we will remember not the words of our enemies but the silence of our friends" (pada akhirnya kita tidak akan mengingat kata-kata lawan kita tetapi kebisuan (diam) teman-teman kita.
Namun sebaliknya, sebagian besar dari kita terpaksa angkat bicara jika kepentingannya terganggu. Bahkan berteriak kencang mengabarkan kepada dunia, berkoar-koar di twitter atau pasang status galau di FB dan lain-lain sebagainya. Ah …..orang seperti ini tidak selebihnya seperti keledai yang hanya akan bersuara kalau ia lapar. Betul. Ternyata, keledai tidak sering mengeluarkan suaranya, kecuali ketika ia hendak mengekspresikan “rasa lapar” dan ingin “melampiaskan nafsu birahinya”. Ketika perutnya keroncongan, ia langsung bersuara. Dan ketika nafsunya bergejolak, sang keledai berteriak sekuat-kuatnya.
Menurut sebuah sumber, Firman Allah SWT dalam Al Qur’an Surat Luqman ayat 19 yang menyebutkan bahwa “seburuk-buruknya suara adalah suara keledai” adalah sebuah kalimat satir yang menggabarkan sebuah peristiwa. Alkisah….. ketika seluruh makhluk Tuhan yang diciptakan dikumpulkan di satu masa, kemudian ruh ditiupkan pada diri mereka dan selanjutnya mereka hidup. Para makhluk itu serta merta langsung bertasbih memuji Allah 'azzawajalla. Hanya keledai saja yang diam. Dalam satu kesempatan saat seluruh makluk terdiam, tiba-tiba keledai berteriak. Makhluk yang lain saling bertanya, kenapa keledai berteriak? Mereka diberi tahu bahwa keledai berteriak karena perutnya lapar. Wallahualam.
Begitulah keindahan Al-Qur'an dalam mengumpamakan orang-orang yang hanya berpikir untuk diri sendiri. Tipikal manusia ini hanya disibukkan bagaimana mengamankan urusannya sendiri dan sanggup berteriak lantang untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Manakala diminta membantu urusan umat manusia yang lain ia hanya terdiam, apatis! Suara mereka melemah saat berbicara kepentingan umum atau bangsa atau demi kemaslahatan orang banyak.
Dari kisah keledai tersebut, kita perlu memaknainya sebagai peringatan agar kita tidak hanya diam tetapi harus aktif berperan serta dalam memecahkan problematika sosial di lingkungan kita dengan mengedepankan urusan ummat/ masyarakat serta terlibat aktif pula dalam urusan kebaikan (ma'ruf) dan ikut mencegah pada kemungkaran. Mari kita hentikan cara-cara klise ABS (agar bapak senang), mari kita hentikan perilaku latah mencari muka, mari kita hentikan sandiwara2 kita, mari menjunjung tinggi etika, kejujuran, dan kebenaran.
Mari memulai dari diri kita sendiri, lalu keluarga kita, tetangga kita, lingkungan RT-RW kita dan seterusnya. Be the agent of change. Jadilah agen perubahan.
(Disadur dari berbagai sumber)

Comments

Popular posts from this blog

Menelusuri Jejak Leluhur

Sebuah Kontemplasi

Sekilas tentang “May Day” atau “Hari Buruh International”