Ribut-ribut “beras plastik” impor
Saat ini masyarakat dihebohkan oleh beredarnya sejumlah “beras
plastik” di pasaran. Beras plastik itu, menurut berita yg dirilis oleh
Sucofindo baru-baru ini, mengandung bahan PVC (Polyvinylchloride) sejenis plastik
yg banyak dipakai dalam aplikasi produk seperti pipa paralon, kulit imitasi,
botol kemasan, dll. Ada yg mengatakan bahwa berita ini hoax hingga bisa
dibuktikan sebaliknya secara ilmiah tapi adanya juga yg mengatakan bahwa berita
itu benar adanya. Selain dibahas di dunia maya, kehebohan itu juga dibahas di TV,
koran, majalah, radio dsb. Saking hebohnya berita ini, sampai2 berita ttg demam
batu akik seakan sirna gaungnya. Ditengarai bahwa beras plastik itu berasal
dari Cina karna sudah ada berita tentang susu dan telur palsu dari Cina
sebelumnya. Ada juga yg mengatakan bahwa ini hanya pengalihan isu secara
berkala. Wallahualam.
Namun persoalan sesungguhnya bukan mencari tahu dari mana
asal beras plastik itu, dari bahan apa beras plastik itu dibuat atau langkah2
apa yg harus dilakukan utk membedakan mana beras asli dan beras plastik.
Persoalan sesungguhnya adalah mengapa Indonesia masih saja harus impor beras.
Mengapa daerah2 penghasil padi masih harus mengimpor beras. Kita terkenal dgn
tanahnya yg subur dan punya lahan yg cukup luas. Tapi masih saja harus impor
beras. Ya, kita masih impor beras sekitar 2 juta ton per tahun utk memenuhi
konsumsi nasional kita (sekitar 33 juta ton per tahun).
Indonesia masih merupakan pemakan beras terbesar di dunia
dengan konsumsi 150 kg per orang per tahun. Dengan kebutuhan yg besar ini, kebutuhan
beras Indonesia menjadi tidak terpenuhi jika hanya mengandalkan produksi dalam
negeri. Sementara Negara tetangga
seperti Cina hanya mengkonsumsi 90 kg,
India 74 kg, Tailand 100 kg, dan Pilipina 100 kg. Sementara kemampuan produksi
beras mereka melebihi kebutuhan konsumsi dalam negeri mereka sendiri. Inilah yg
harus dipikirkan oleh para pegambil keputusan. Initiatif pemerintah pusat utk
membangun 65 waduk, 1 jt Ha jaringan irigasi, rehabilitasi 3 jt Ha jaringan
irigasi perlu segera dilakukan agar kapasitas produksi pertanian kita bisa
meningkat. Sehingga kedaulatn pangan negara kita bisa segera terwujud dan kita
tidak selalu menjadi obyek “percobaan” bangsa lain untuk memakan plastik.
Seperti biasa “there is blessing in disguise”. Akibat berita
beras plastik, banyak orang sekarang mendatangi tempat2 penggilingan padi utk
membeli beras karna akan terjamin keasliannya. Inilah salah satu alasan mengapa
kita harus menghargai jerih payah petani kita. Sudah saatnya kita mendukung
kebijakan2 yg mendorong tumbuhnya usaha tani dalam negri. Bukan dgn jalan
pintas “impor”.
Singapura
22 Mei 2015
Comments
Post a Comment