Bombana bisa menjadi salah satu Lumbung Padi Nasional
Bombana bisa menjadi salah satu Lumbung Padi Nasional
Di penghujung 2014 lalu saya berkunjung ke Tampabulu.
Potensi alam daerah ini sangat menakjubkan. Betapa tidak, hamparan sawah yang
sangat luas dengan padi yang menghijau menjadi pemandangan alam yang indah.
Menurut mantan Kep. Desa yang saya temui paling tidak ada sekitar 500 Ha
sawah di Tampabulu. Sawah-sawah di sana bisa panen sampai 3 kali dalam dua
tahun. Namun sayang potensi yang luar biasa ini belum dikelola secara baik atau
profesional. Umumnya petani kita hanya bisa menjual gabah ke para tengkulak.
Pikiran saya langsung tertuju ke Sukabumi (colek pak Luwarso Sapa) tentang
penggilingan padi modern yag dipadukan dengan sistem persawahan yang diatur
sedemikian rupa agar setiap harinya ada yang menanam dan ada yang memanen.
Mengapa? Karna sawah2 di Tampabulu nyaris tidak tergantung musim dan didukung
oleh irigasi yang baik (dibangun beberapa tahun silam sebelum Bombana berdiri).
Hasil olahan bisa mempunyai nilai tambah yaitu beras siap masak “Made in
Bombana”. Dengan demikian penghasilan petani dapat menjadi lebih baik karna
nilai jual produk yang baik. Bayangkan kalau desa-desa penghasil padi lainnya
seperti di SP bisa dikelola dengan serius dan dibangunkan irigasi yang baik bukan
mustahil Bombana bisa menjadi salah satu Lumbung Padi Nasional dengan beras
khas Made in Bombana. Ini bisa menjadi keuatan ekonomi Bombana yang sustainable
dibanding tambang emas yang hanya di nikmati olek segelintir orang (terutama
luar Bombana) tapi bisa membawa petaka buat masyarakat Bombana.
Selain padi, rupanya daerah Tampabulu atau Poleang secara
umum memiliki tanah yang cukup subur serta ketinggian dari permukaan laut yang
memadai sehingga banyak tanaman holtikurtura lain yang bisa tumbuh kembang dengan
baik. Saya sempat mengunjungi salah satu usaha budidaya tanaman holtikultura
yang dipelopori oleh salah seorang pemuda setempat. Dia pernah ikut pelatihan
pertanian di Jepang dan di Jawa yang disponsori oleh Kementrian Pertanian.
Walaupun tidak mendapatkan bantuan sepeser pun dari pemerintah setempat dia
tetap bergiat dan mencari jalan agar cita-citanya bisa terwujud dan
Alhamdulillah sudah banyak yang masuk kelompok tani yang dia motori. Ketika
saya tawari untuk menjadi investor dia langsung mengajukan syarat bahwa saya
harus ikut bertani di sana, modal saja tidak cukup. Saya sangat respek dengan
kebijakan dia tersebut. Dia ingin komitment yang solid dan agar kita dapat
merasakan langsung jerih payah petani. Kita memerlukan banyak pemuda seperti dia.
Semoga dia bisa menjadi inspirasi bagi yang lain./ Kasra
Comments
Post a Comment